Dialog Allah SWT dan Malaikat tentang Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa  

Posted by Rudiny in

Gambar dari sini


Suatu hari, Rasulullah menyampaikan berita kepada sahabat tentang adanya malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, berkeliling di muka bumi, untuk mencari orang yang selalu berdzikir, mencari majelis-majelis yang berdzikir. Jika malaikat itu menemukan apa yang dicari, maka dia akan berseru kepada malaikat lainnya, “Kemarilah, inilah hajat kalian!”
Lalu para malaikat itu mengelilingi kaum yang sedang berdzikir tersebut, ikut duduk bersama mereka, dengan membentangkan sayap-sayap mereka sampai ke atas langit dunia. Jika orang-orang yang berdzikir tadi selesai melakukan dzikirnya, para malaikat naik ke langit. Pada saat itu Rabb bertanya kepada malaikat – dan Dia Lebih Mengetahui – :
“Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?”
“Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir, bertahmid, dan mengagungkan-Mu” jawab para malaikat.
“Apakah mereka melihat-Ku?” Allah SWT bertanya lagi.
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu!”
Allah SWT: “Apa yang mereka minta?”
Malaikat: “Mereka meminta Surga kepada-Mu.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya!”
Allah SWT: “Lantas bagaimana jika mereka melihatnya?”
Malaikat: “Andaikan mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih sangat mendambakannya, lebih sangat menginginkannya, dan lebih senang kepadanya!”
Allah SWT: “Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?”
Malaikat: “Mereka meminta perlindungan dari Neraka.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.”
Allah SWT: “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”
Malaikat: “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentu mereka lebih menjauh daripadanya dan lebih takut daripadanya.”
Lalu Allah SWT berfirman, “Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni untuk mereka.”
Salah satu dari malaikat pun berkata, “Wahai Rabb, di tengah-tengah mereka ada seseorang yang bukan dari golongan mereka. Orang itu datang untuk suatu kepentingan (bukan untuk berdzikir)!”
Allah SWT menanggapinya, “Mereka itu adalah kelompok orang yang tidak akan celaka, siapa pun yang ikut duduk dengan mereka!”
___
Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim. Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah.


Sumber : Grup Facebook Kenapa Takut Bid'ah ?




Sebutir Kurma Membuat Do'a Tidak Terkabul  

Posted by Rudiny in



Gambar dari sini

Seorang sufi yang terkenal dengan kezuhudannya pernah mengalami suatu peristiwa yang mengandung hikmah untuk diambil manfaatnya: (berikut ini kisah tersebut)

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

'Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,' kata malaikat yang satu.

'Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,' jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. 'Astaghfirullahal adzhim' ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. '4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?' tanya ibrahim. 'Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma' jawab anak muda itu. 'Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?'. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. 'Nah, begitulah' kata ibrahim setelah bercerita, 'Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?'. 'Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.' 'Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.'

Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. 'Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.' 'O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.'

'Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu...


Sumber : Grup Facebook CINTA ALLAH & CINTA RASUL


Dosa yang Lebih Besar dari Berzina !  

Posted by Rudiny in

Gambar dari sini


Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy)

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.

Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah, lek iso jamaah terus.

Sumber : Grup Facebook CINTA ALLAH & CINTA RASUL


Tingkatan Cinta  

Posted by Rudiny in


Tingkatan pertama cinta adalah istihsan (anggapan baik). Pada tingkatan ini seseorang menyukai wajah orang yang menjadi objek cintanya. Dengan demikian, cinta itu pada mulanya bermula dari pandangan mata. Mata seolah - olah berperan sebagai delegasi seseorang yang sedang dilanda cinta, terlebih lagi saat lidah tidak mampu mengekspresikan cinta. Pada level ini interaksi yang terjadi lebih bersifat kesetiakawanan, belum menjadi interaksi cinta.

Tingkat yang kedua adalah takjub. Pada tingkatan ini seseorang selalu ingin berada di samping obyek cintanya dan ingin selalu bercakap - cakap dengannya.

Kemudian tingkatan selanjutnya adalah rindu. Dalam level ini, hati seseorang demikian menggebu - gebu terhadap kekasihnya, sehingga ia akan tersiksa apabila tidak melihat kekasihnya. Semua orang akan ikut merasakan kegelisahannya. Dan kegelisahan tersebut akan terobati tatkala ia melihat kekasihnya.

Lalu tingkatan terakhir adalah tingkatan kasmaran. Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta.

Seseorang yang sedang kasmaran ada 3 tingkatan :
Tingkatan permulaan, pertengahan dan akhir.

Pada tingkatan permulaan setiap orang harus segera menepisnya semaksimal mungkin apabila upaya untuk menuju tambatan hatinya diperkirakan tidak mungkin secara realita atau tidak diperbolehkan secara syar'i.

Namun, apabila ia tidak mampu menahan kasmaran dan hatinya ingin selalu dekat dengan kekasihnya, maka berarti ia telah masuk ke dalam tingkatan pertengahan.

Sedangkan tingkatan akhir, dalam hal ini ia harus merahasiakan perbuatannya, tidak perlu disebarluaskan kepada manusia. Jika ia tetap menyebarluaskan, maka berarti ia telah melakukan kezaliman terang - terangan.


Sumber : al-Hubbu fil-Jami'ati (Dr. Khalid Jamal)





Do'a Seorang yang Bertaubat  

Posted by Rudiny in


Bakr ibn Abd Allah Al-Mazani meriwayatkan bahwa seorang tukang daging pernah menaruh hasrat terhadap gadis tetangganya. Suatu hari, ketika keluarga si gadis menyuruhnya pergi untuk suatu keperluan ke desa lain, tukangdaging itu mengikutinya dan berusaha merayunya. Tetapi si gadis berkata, “Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu melebihi cintamu kepadaku, tetapi aku takut kepada Allah.” Tukang daging itu berkata, “Engkau takut kepadanya, sedangkan aku tidak?” Saat itu juga ia beranjak pergi seraya bertobat. Dalam perjalanan, dia diserang rasa haus yang nyaris membuatnya mati. Tiba-tiba berdiri di depannya utusan (Rasul) dari salah seorang Nabi Israel yang bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab, Aku haus.” Dia berkata, “Ke sinilah, mari kita berdoa kepada Allah agar Dia menaungi kita dengan awan hingga kita tiba di desa.” Si tukang daging berkata, “Baiklah, tetapi ucapkanlah amin atas doaku.” Maka utusan itu pun berdoa, sedangkan tukang daging itu mengucapkan amin. Kemudia awan turun menaungi keduanya hingga mereka tiba di desa. Tatkala tukang daging bergeser dari tempatnya, awan itu bergerak mengikutinya sehingga utusan itu berkata, “Tadi engkau mengatakan tidak memiliki amal saleh. Oleh karena itu, akulah yang berdoa, sedangkan engkau mengucapan amin. Akan tetapi, awan yang meneduhi kita malah mengikutimu.” Maka si tukang daging pun menceritakan ihwal dirinya. Lalu utusan itu berkata, “Sesungguhnya orang yang bertaubat kepada Allah lebih tinggi kedudukannya di sisi-Nya di bandingkan siapa pun.”

Bertawashul dengan Amal Ibadah  

Posted by Rudiny in


Diriwayatkan bahwa Abd Allah ibn Umar berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang pria pada zaman dahulu melakukan suatu perjalanan. Ketika malam tiba, mereka berlindung di dalam sebuah gua, namun tiba-tba sebongkah batu jatuh dari atas gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kita dari batu ini, kecuali dengan berdoa kepada Allah Swt dengan menyebutkan amal saleh kita pada masa yang lalu.”

Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Allah, engkau tahu bahwa aku punya dua orangtua yang sudah sangat lanjut, dan bahwa aku selalu memerah susu untuk keduanya sebelum untuk keluargaku dan budak-budakku. Suatu hari, ketika mencari makanan ternak, aku terpaksa pergi jauh. Sehingga aku baru kembali setelah keduanya tertidur, aku merasa tidak pantas untuk mendahului meminum susu itu. Demikian pula istri, anak dan budak-budakku. Aku tetap diam dengan gelas di tanganku, sambil menunggu keduanya bangun dari tidur hingga terbit fajar, sedangkan anak-anak mengitari kakiku sambil menangis. Kemudian mereka bangun dan meminum susu itu. Ya Allah, jika aku sungguh-sungguh melakukan itu demi Engkau, selamatkan kami dari batu ini.” Batu itupun bergeser sedikit, namun mereka tetap tidak dapat keluar.

Pria yang kedua berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku punya saudara sepupu perempuan yang sangat kucintai dan aku berusaha untuk merayunya. Tetapi dia menolak. Lalu datanglah musim paceklik ketika dia menjadi sangat kesusahan. Dia pun datang kepadaku dan kepadanya kuberikan uang sebesar 120 dinar dengan syarat dia harus melayaniku. Dia setuju. Tetapi ketika aku nyaris merenggutnya, dia berkata, ‘takutlah kepada Allah dan janganlah kau rusak ‘mahkota’ itu kecuali dengan cara yang halal.’ Aku mengurungkan niatku untuk menyetubuhinya. Lalu aku pun pergi meninggalkannya dengan emas yang kuberikan kepadanya. Meskipun dia adalah orang yang paling aku cintai. Ya Allah, jika aku benar-benar melakukan itu karena Engkau, selamatkanlah kami dari bencana ini.” Kemudian batu itupun bergeser lagi, akan tetapi mereka masih belum bisa keluar.

Setelah itu, pria yang ketiga berkata, “Ya Allah, aku pernah mempekerjakan buruh dan membayar upah mereka, kecuali seorang buruh yang pergi sebelum mengambil haknya. Maka aku perniagakan upahnya itu hingga menjadi bertambah besar jumlahnya. Selang beberapa waktu, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Hai hamba Allah, berikan upahku.’ Aku berkata kepadanya, ‘Upahmu adalah semua yang kau lihat di sini, yaitu sekawanan unta, sapi, domba maupun para hamba sahaya.’ Dia berkata, ‘Hai hamba Allah, apakah engkau mengejekku?’ Aku berkata, ‘Tidak, aku tidak mengejekmu. Ambillah.’ Lalu dia mengumpulkan (hewan-hewan dan budak-budak) dan mengambil semuanya, tanpa meninggalkan sisa sedikit pun. Ya Allah, jika aku benar-benar melakukan itu karena Engkau, selamatkanlah kami dari bencana ini.” Maka batu itu pun bergeser lagi sehingga mereka terbebas dan pergi.” (ar-Riyadhu as-Shalihin).

KETERAMPILAN TERBESAR ADALAH MAMPU MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI  

Posted by Rudiny in



Ketika pertama kali bekerja di tahun 1955, Kazuo Inamori, salah satu konglomerat terkemuka Jepang, benar-benar anak desa. Seblumnya, ia tak pernah tinggal di kota besar dan bicara dengan aksen selatan yang kental. Setiap kali telepon berdering, ia selalu mengharap orang lain yang mengangkatnya. Ia tak ingin menunjukkan dialek daerahnya dan merasakan hal itu sebagai hambatan.

Tapi, daripada mengalami kompleks kurang harga diri, ia memutuskan untuk menerima kelemahannya dan bekerja keras untuk mengatasinya sehingga tidak merasakannya sebagai suatu kegagalan.

“Saya memang anak desa,” saya mengakuinya pada diri sendiri. “Saya kuliah di sekolah tinggi desa. Saya tak tahu banyak tentang dunia dan kurang bisa berfikir sehat. Saya tak mungkin mengharapkan sukses kecuali saya belajar segalanya mulai dari bawah dan bekerja lebih keras dibanding siapa pun.”

Singklatnya, ia belajar untuk tidak menyangkal kelemahannya. Dengan menerimanya sebaga suatu kenyataan, ia tak perlu berpura-pura. Ia merasa bebas mengambil langkah berikutnya untuk perbaikan.

Jangan berpura-pura dapat melakukan sesuatu yang sesungguhnya tak bisa Anda lakukan. Akui apa yang Anda tidak bisadan mulai dari sana.

“Itulah pelajaran yang saya dapatkan ketika bekerja di Shofu Industries, sebuah perusahaan kecil di Kyoto. Saya mengingatkan diri saya berkali-kali sepanjang hidup saya,“ tulisnya dalam bukunya, Passion for success.

3 PERINGATAN IBLIS UNTUK ANAK CUCU ADAM  

Posted by Rudiny in


Diriwayatkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah duduk bersama seseorang ketika iblis mendatanginya seraya mengenakan pakaian berwarna-warni. Ketika iblis semakin dekat kepada Musa, dia menanggalkan pakaiannya dan meletakkannya, sambil berkata, Assalamu’alaika ya Musa,” Musa bertanya, “Siapakah Anda?” Dia menjawab, “Aku Iblis.” Musa berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Apa yang membawamu kesini?” Iblis menjawab, “Aku datang untuk mengucapkan selamat atas ketinggian derajatmu di sisi Allah.” Musa bertanya, “Apa yang tengah kamu kenakan?” Iblis menjawab, “Pakian yang dengannya aku menaklukkan hatio anak-cucu Adam.” Musa bertanya lagi, “Apakah yang dilakukan manusia yang bisa kamu jadikan alat untuk menguasai mereka?” Iblis menjawab, “Jika manusia besar kepala, menghitung-hitung amalnya, dan melupakan dosa-dosanya. Oleh karena itu aku peringatkan tentang tiga hal. Jangan pernah berdua-duaan dengan seorang wanita yang bukan istrimu. Sesungguhnya tidaklah seorang pria berduaan dengan seorang wanita kecuali aku kan menemani keduanya dan membuat mereka saling tertarik satu sama lain. Janganlah pernah berjanji kepada Allah kecuali jika engkau menepatinya. Dan janganlah sekali-kali engkau mengeluarkan sedekah, namun kemudian membatalkannya. Sesungguhnya tidaklah seseorang mengeluarkan sedekah, namun kemudian membatalkannya, kecuali aku akan menjadi sahabatnya (sehingga aku akan menjadi penghalang baginya untuk melaksanakannya).” Kemudian dia pergi, sambil berseru, “Betapa celakanya aku! Musa telah mempelajari sesuatu yang dapat menjadi peringatan bagi anak cucu Adam.”