Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba² dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah²an. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah²an itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya.
Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata... "Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya...!!!"
Orang itu menjawab... "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya...!!!"
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi... "Dimana rumah pemiliknya...??? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini...!!!"
Pengurus kebun itu memberitahukan... "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam...!!!"
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu...
"Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya...
"Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka...!!!"
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata...
"Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu...???"
Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba²...
"Tidak... aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat...!!!"
Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya...
"Apa syarat itu tuan...???"
Orang itu menjawab...
"Engkau harus mengawini putriku...!!!"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata...
"Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu...???"
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit.
Ia malah menambahkan, katanya...
"Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan² putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh...!!!"
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara² setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya...???
Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi... "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan...!!!"
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap... "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban² dan hak²ku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah²an aku dapat meningkatkan kebaikan²ku di sisi Allah Taala...!!!"
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam...
"Assalamu alaikum...!!!"
Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.
"Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula...!!!" Kata Tsabit dalam hatinya.
Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita² yang bertentangan dengan yang sebenarnya...??? Setelah Tsabit duduk di samping istrinya, dia bertanya...
"Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa...???"
Wanita itu kemudian berkata...
"Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa² yang diharamkan Allah...!!!"
Tsabit bertanya lagi...
"Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa...???"
Wanita itu menjawab...
"Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan...???" Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata...
"Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat² yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala...!!!
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya Dengan bangga ia berkata tentang istrinya...
"Ketika kulihat wajahnya... Subhanalla, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap...!!!"
Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia.
itulah AL IMAM ABU HANIFAH AN NU'MAN bin Tsabit...
- Menyegerakan diri untuk menikah itu sunnah... Tapi tergesa-gesa untuk menikah itu musibah...
- Menikah itu kebaikan... Maka awalilah kebaikan dengan kebaikan pula...
- Cobaan menjelang pernikahan itu sangat berat... Maka beruntunglah bagi mereka yang dapat melaluinya dengan kesabaran dan keyakinan...
- Jika engkau menikahinya karena ketampanan atau kecantikannya... Maka ketahuilah bahwa suatu saat ia akan peot dan keriput...
- Jika engkau menikahinya karena hartanya... Sungguh ketahuilah bahwa hartanya itu akan habis...
- Namun jika engkau menikahinya karena agamanya... Maka ketahuilah bahwa engkau orang yang paling beruntung...
- Cinta yang dikehendaki Allah adalah mencintai seseuatu karena mengharapkan keridha-an Allah semata...
- Jangan sampai kekaguman kita terhadap dunia melebihi kekaguman kita kepada Allah Swt...
- Ketika Allah Swt telah membuatmu jemu dengan makhluk... Maka ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan pintu kedekatan dengan-Nya...
- Sesorang hanya akan menikah dengan jodohnya... Tidak mingkin dia akan menikah dengan yang bukan jodohnya... Maka kegagalan dalam menuju pelaminan... Bisa jadi karena memang dia bukan jodohnya...
- Berdo’alah... Tapi jangan semata-mata karena hajat duniamu... tapi memang karena kerinduanmu untuk merintih... Mengadu... berbisik dan bercengkrama dengan-Nya...
- Apa yang berlalu dari dunia adalah mimpi... Apa yang belum ada adalah angan–angan... Dan apa yang sekarang ada dalam genggaman adalah titipan yang harus dipertanggung jawabkan...
- Derajat keimanan seseorang akan naik ke tingkat yang lebih tinggi setelah ia melewati satu pintu... Pintu itu bernama pernikahan...
- Dunia ini datang dan pergi sewaktu-waktu kapan saja...
- Jika datang bersyukurlah... Jika pergi maka bersabarlah... Karena itu letakkanlah dunia di telapak tanganmu... Jangan di hatimu... Karena tidak mungkin ada dua cinta berkumpul dalam satu hatimu...
- Jadikanlah keikhlasan menerima takdir-Nya sebagai bukti cinta kita kepada Allah Swt... Hadapilah segala ketentuan-Nya... Karena jalan kemenangan ada dalam hati kita...
- Bila kita ingin mendapatkan yang lebih... Maka kita juga harus berjuang dan sanggup berbuat yang lebih pula... Begitu pula apabila kita ingin mewujudkan cita–cita yang sempurna... Maka kita harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna...
- Banyak yang ingin berpoligami mengatasnamakan sunnah... Padahal sebenarnya nafsulah yang menginginkannya...
- Banyak yang takut menikah... Karena takut tidak dapat memberi makan istri dan anak... Padahal yang memberi makan dan istri dan anaknya adalah Allah SWT... Melalui perantara dia...
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata: betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan.” Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti … mesti … dan mesti …” Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih.”
Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan…”
Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja.”
“Haah, pergi?” Kata sang istri.
“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat.” Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi.”
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ...
Barakallahufikum ...
"Sayangku yang tercinta, mohon maafkan aku, maafkan selama hidupku bersamamu adalah dusta belaka. Meski hanya sebuah kebohongan yang aku katakana kepadamu tentang kopi asin. Kamu ingat kan waktu pertama kali kita jalan bersama, aku sangat gugup waktu itu, sebenarnya aku ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi aku untuk merubahnya, karena pasti kamu tambah merasa tidak nyaman, jadi aku teruskan saja. Aku tidak pernah berfikir bahwa kejadian itu ternyata awal komunikasi kita, awal keakraban kita dan mata cinta kita. Aku mencoba berkata sejujurnya selama ini untuk menjelaskannya kepadamu, tapi aku terlalu takut karena aku telah berjanji untuk tidak berbohong sekalipun.Sekarang aku sekarat, aku tidak takut apa-apa lagi, jadi aku kataka kepadamu yang sejujurnya. Aku tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi aku selalu mendapatkan kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan aku tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang aku lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila aku dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun aku harus meminum kopi asin itu lagi."
Pemuda ini percaya bahwa sang guru akan memberikan nasehat yang bijak. Maka tanpa bertanya apapun pemuda ini melaksanakannya. Setiap batu yang bisa ditemukannya di jalan diambilnya. Lalu dia menilai apakah batu itu indah atau tidak dengan membandingkan dengan batu lainnya.
Keesokan paginya pemuda ini datang dengan bercucuran keringat sambil mengendong sekarung sesuatu di pundaknya. Setelah dibuka dan dikeluarkan isinya, ternyata isinya adalah batu. Dan batu-batu itu memang terlihat indah dibawah terik matahari pagi itu.
“Guru, guru memintaku membawa satu batu yang menurutku paling indah, tapi aku juga melihat banyak batu-batu lain yang indah, jadi aku berpikir alangkah baiknya jika aku bisa memilih lebih dari satu batu. Sekarang aku telah melaksanakan perintah guru, jadi apa hubungannya dengan pertanyaanku kemarin dengan batu-batu ini?”, tanya pemuda ini masih bingung.
Sang guru hanya tersenyum, lalu dilihatnya batu-batu itu. Katanya pada pemuda ini, “Sekarang pulanglah, bawa batu-batu ini bersamamu dan letakkan kembali dimana kamu menemukan batu-batu ini. Besok pagi datanglah padaku”.
Pemuda ini makin bingung dengan permintaan sang guru. Dia sudah bersusah payah menemukan batu indah yang diminta sang guru, lebih dari satu lagi sekarang malah disuruh untuk mengembalikan kembali kejalanan? pada tempatnya lagi dimana ia temukan?.
Walaupun dengan perasaan kecewa dan berat, pemuda ini tetap melaksanakan perintah sang guru. Diambilnya semua batu-batu itu dan dimasukan kembali dalam karung yang dibawanya. Lalu pemuda ini pun pulang dengan beban di pundaknya. Sekali lagi.
Keesokan paginya pemuda itu datang dengan tangan kosong. Wajahnya terlihat agak cemberut. Mungkin pemuda ini kecapekan karena seharian mengendong karung berat berisi batu-batu kemarin. Ketika pemuda ini bertemu gurunya tanpa basa-basi ia langsung bertanya, “Sekarang apa yg harus kulakukan? Mohon guru memberikan jawaban pada murid dan murid mohon jawaban itu harus memuaskan”, tanya si pemuda dengan nada yang sedikit tinggi.
Sang guru tersenyum melihat muridnya yang tidak sabaran, atau lebih tepat sudah kehilangan kesabarannya. Katanya pada pemuda ini, “Punggut kembali satu batu yang kamu buang itu”.
Kali ini sang pemuda murka. Mukanya memerah padam. Tetapi sebelum kemarahan itu dimuntahkannya, sang guru lalu berkata. “Muridku, beberapa hari yang lalu kamu bertanya padaku bagaimana menemukan cinta sejatimu bukan?”, tanya sang guru.
”Iya guru, dan ternyata guru mempermainkanku. Jika guru tidak tahu mengapa murid yang harus jadi korban”, jawab sang murid masih marah.
”Hohoho…, tahukah pelajaran apa yang kuberikan padamu selama tiga hari ini?, tanya sang guru tersenyum penuh arti.
”Bagaimana murid bisa tahu? yang guru minta hanya memunggut batu dan meletakannya kembali. Apa yang bisa kupelajari dari memunggut batu?”, tanya murid kebingungan dengan kemarahan semakin memuncak.
Sang guru menghela napas panjang. Dilihat mata muridnya dalam-dalam. Katanya, “Muridku, seandainya batu itu adalah seorang manusia, seorang wanita, sebuah batu yang kamu sebut cinta setia, kamu sebenarnya telah menemukannya, tapi karena MATAMU YANG SILAU akan hal-hal yang indah, kamu MENUTUP MATAMU yang KEDUA sehingga ada satu yang benar-benar batu setiamu kamu tutupi dengan batu-batu lainnya dan itulah kesalahan PERTAMAMU”.
“Kesalahan KEDUAmu adalah, kamu terlalu MEMPERCAYAI APA YANG DIDENGAR TELINGAMU. Saat aku memintamu mengembalikan semua batu- batu itu, kamu malah melakukannya dengan sempurna. Tapi saat aku kembali memintamu mencari kembali satu batu lagi kamu malah menjadi marah-marah”.
Sembari menghela nafas sang guru melanjutkan “Itulah mengapa sampai hari ini kamu TIDAK MENEMUKAN CINTA SEJATIMU, kamu dibutakan oleh MATAMU dan kamu DITULIKAN oleh telingamu. Kamu terlalu PERCAYA pada mereka yang kamu anggap “BIJAK”, lalu kamu mendengarkan perkataan mereka. Saat kamu telah melakukan semua nasehat yang kamu anggap “Bijak” tadi dan tidak berhasil, kamu menyalahkan mereka. Padahal, kamu sendirilah yang memilih mendengar daripada mereka”. “Ingatlah, cinta sejatimu itu bagaikan batu indah yang kuminta padamu untuk memunggutnya. Jika kamu telah menemukannya, genggamlah erat-erat. Jangan lagi MEMBANDINGKAN dengan batu-batu indah lain di jalan. Jangan lagi MENCARI di sepanjang perjalanan pulang. Karena semakin kamu mencari, semakin kamu berjalan terlalu jauh dari batu yang telah kamu pilih”.
“Tidak ada yang salah jika kamu ingin mendapatkan batu yang lebih indah, tapi yang indah saja tidak cukup. Dia harus enak digenggam. Dia harus memberi kita kenangan. Percuma kamu menemukan batu yang paling indah tapi ketika digenggam semakin lama semakin membuat tanganmu terluka sehingga mau tidak mau kamu harus membuangnya”.
“Nah muridku. Guru ingin bertanya satu kali lagi padamu. Maukah kamu membawakan satu batu yang paling indah menurutmu kepadaku?”, tanya sang guru dengan senyumannya yang bijaksana.
Sang pemuda tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Murkanya sirna. Dengan senyuman tetap merias di wajahnya pemuda ini berkata pada gurunya.“Tentu saja guru, dan kali aku pastikan HANYA SATU BATU dan tentunya yang PALING INDAH BAGIKU“.
"Sudah sampai sayangku" kekasihnya menjawab dengan penuh pengertian.
Tak lama kemudian pria tersebut bertanya kembali "Apakah banyak ikan yg terlihat olehmu?" wanita tersebut pun menjawab namun sedikit mulai gelisah "Ya... lumayan banyak siih."
Dengan perasaan gembira kemudian pria tersebut kembali bertanya "Sayang, apakah ada orang yang terlihat memancing di danau ini? Aku ingin sekali berbincang dengan pemancing tersebut."
Dengan nada kesal kekasihnya menjawab "Ya ada kok, apakah yang aku lihat semuanya harus dilaporkan kepada dirimu?"
Mendengar jawaban sang kekasih air mata sang pria pun menetes perlahan "Apakah kau merasa aku tidak bersedih dengan keadaanku? Kau kembali menunjukkan kelemahanku. Tahukah, aku pun kecewa akan keadaanku, bukankah dulu sebelum aku berpasangan denganmu, aku telah menerima dengan tulus kebutaanmu. Dan akhirnya aku pun ikhlas memberikan mataku untukmu." Kata pria seraya tersenyum "Agar kau dapat melihat keindahan yang selama ini aku lihat. Agar kau bahagia dengan keindahan yang ada di dunia ini, yang selama ini tak pernah terlihat olehmu."
Sang Kekasih pun terdiam dan segera memeluk pria tersebut sambil menangis haru.
Pernahkah anda memikirkan perasaan pasangan Anda?
Padahal jika dirasa, apa yang telah dia berikan sudah melebihi batas pemikiran kita.
Waktu dia menerimamu, berarti dia telah menerimamu apa adanya, baik itu kekuranganmu maupun kelebihanmu.
Lalu, apakah sekarang Anda Marah dengan dia?
Apakah Anda pantas bersikap cuek dengan dirinya?
Apakah Anda pernah belajar untuk memikirkan apa yang dia pikirkan? TIDAK PERNAH bukan? :)
Sebenarnya apa yang ada dipikirkan pasanganmu?
Yang ada dipikiran pasanganmu adalah "Sebuah Rasa Takut" takut tak melihat senyum, ketawa dan bahagia Anda, dari cinta yang telah Anda berikan kepadanya. Semua itu karena dia sayang dan peduli terhadap diri Anda. Sayangilah pasangan Anda sekarang juga. Sebelum rasa sayang itu terlambat, dan menjauh karena kesalahan sikap yang kita tunjukkan.
Customer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?
Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:
يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).
Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.
Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan
Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.
Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ. أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137
“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)
Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."
Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.
Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.
H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU
Sumber : Kenapa Takut Bid'ah ?
Tingkat yang kedua adalah takjub. Pada tingkatan ini seseorang selalu ingin berada di samping obyek cintanya dan ingin selalu bercakap - cakap dengannya.
Kemudian tingkatan selanjutnya adalah rindu. Dalam level ini, hati seseorang demikian menggebu - gebu terhadap kekasihnya, sehingga ia akan tersiksa apabila tidak melihat kekasihnya. Semua orang akan ikut merasakan kegelisahannya. Dan kegelisahan tersebut akan terobati tatkala ia melihat kekasihnya.
Lalu tingkatan terakhir adalah tingkatan kasmaran. Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta.
Seseorang yang sedang kasmaran ada 3 tingkatan :
Tingkatan permulaan, pertengahan dan akhir.
Pada tingkatan permulaan setiap orang harus segera menepisnya semaksimal mungkin apabila upaya untuk menuju tambatan hatinya diperkirakan tidak mungkin secara realita atau tidak diperbolehkan secara syar'i.
Namun, apabila ia tidak mampu menahan kasmaran dan hatinya ingin selalu dekat dengan kekasihnya, maka berarti ia telah masuk ke dalam tingkatan pertengahan.
Sedangkan tingkatan akhir, dalam hal ini ia harus merahasiakan perbuatannya, tidak perlu disebarluaskan kepada manusia. Jika ia tetap menyebarluaskan, maka berarti ia telah melakukan kezaliman terang - terangan.
Sumber : al-Hubbu fil-Jami'ati (Dr. Khalid Jamal)
Bakr ibn Abd Allah Al-Mazani meriwayatkan bahwa seorang tukang daging pernah menaruh hasrat terhadap gadis tetangganya. Suatu hari, ketika keluarga si gadis menyuruhnya pergi untuk suatu keperluan ke desa lain, tukangdaging itu mengikutinya dan berusaha merayunya. Tetapi si gadis berkata, “Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu melebihi cintamu kepadaku, tetapi aku takut kepada Allah.” Tukang daging itu berkata, “Engkau takut kepadanya, sedangkan aku tidak?” Saat itu juga ia beranjak pergi seraya bertobat. Dalam perjalanan, dia diserang rasa haus yang nyaris membuatnya mati. Tiba-tiba berdiri di depannya utusan (Rasul) dari salah seorang Nabi Israel yang bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab, Aku haus.” Dia berkata, “Ke sinilah, mari kita berdoa kepada Allah agar Dia menaungi kita dengan awan hingga kita tiba di desa.” Si tukang daging berkata, “Baiklah, tetapi ucapkanlah amin atas doaku.” Maka utusan itu pun berdoa, sedangkan tukang daging itu mengucapkan amin. Kemudia awan turun menaungi keduanya hingga mereka tiba di desa. Tatkala tukang daging bergeser dari tempatnya, awan itu bergerak mengikutinya sehingga utusan itu berkata, “Tadi engkau mengatakan tidak memiliki amal saleh. Oleh karena itu, akulah yang berdoa, sedangkan engkau mengucapan amin. Akan tetapi, awan yang meneduhi kita malah mengikutimu.” Maka si tukang daging pun menceritakan ihwal dirinya. Lalu utusan itu berkata, “Sesungguhnya orang yang bertaubat kepada Allah lebih tinggi kedudukannya di sisi-Nya di bandingkan siapa pun.”
Seorang muballigh – sebagaimana kita ketahui – pada bulan haji atau bulan Rabi,ul Awwal banyak mendapat undangan untuk berceramah di Majlis-majlis Ta’lim, mesjid, surau atau lainnya. Terkadang, dalam satu malam ia mendapat undangan untuk berceramah pada beberapa tempat, sehingga ia benar-benar repot untuk membagi waktu, baik waktu-waktu untuk ceramah maupun untuk keluarganya.
Dari Ahmad bin Sa’id Al-Abid dari ayahnya bahwa dia berkata, “Dahulu pernah tinggal di tengah-tengah kami di Kufah seorang pemuda yang rajin beribadah, yang biasa beriktikaf di masjid jami dan nyaris tidak pernah meninggalkannya. Dia adalah pemuda yang berwajah menarik, dengan sikap yang menyenangkan. Ada seorang wanita cantik dan pandai yang jatuh cinta kepadanya. Setelah memendam perasaan ini untuk waktu yang lama, pada suatu hari dia berdiri di tengah jalan yang akan dilalui oleh pemuda itu menuju masjid. Dia berkata, “Hai pemuda, dengarkanlah beberapa kata yang ingin kuucapkan kepadamu. Setelah itu, lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan.”












