Pernah terjadi di Rusia, di sebuah negeri yang bercorak putih,
berselimut salju dan terkenal atheis. Seorang pria pergi ke tukang
cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk luar biasa. Kepalanya
mulai mengangguk-angguk karena kantuk. Si tukang cukur merasa kesal,
namun enggan untuk membangunkan, lalu untuk mengusir kantuk pelanggannya
si tukang cukur kemudian mengajaknya untuk bicara.
"Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?"
Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’
Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, ‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!'
‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya.
‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dengan sifat-Nya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah, galau, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini bukti sederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’ tukang cukur berbicara dengan cukup lantang.
Si pelanggan terdiam. Sambil membatin, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai ia tak jua menemukan jawaban tepat. Maka pembicaraan pun terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan.
Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat.
Namun dalam langkahnya, ia masih penasaran untuk tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani. Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar…. saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya. Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan, baju compang-camping tak keruan.
Demi melihat hal demikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun kembali mendatangi si tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR bukan TUHAN !’
Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut Anda saya pangkas!’
‘Begini pak, di jalan tadi saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berpenampilan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan penjelasannya.
Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak… maaf bukannya TUKANG CUKUR yang tidak ada di dunia ini. Masalahnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tadi tidak mau datang ke sini, ke tempat saya… Andai dia mau datang, maka pasti rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak lagi berpenampilan demikian!’
Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara,‘Naaaahhhh….!!! itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan tadi!'
‘Apa maksudmu?’ si tukang cukur tersontak kaget tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya.
‘Anda tadi kan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya banyak masalah, galau, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Andai saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!'
Si tukang cukur pun akhirnya hanya terdiam, sambil menatap punggung si pelanggan yang melenggang meninggalkan barber shop-nya.
***
Jadi… kita hanya tinggal memohon saja apa yang kita inginkan kepada Allah Swt, pasti Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!”
Katakanlah : “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”(QS. Ali Imran : 26-27)
(Bacalah ayat ini sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki yang halal dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu dan keluarga, insya Allah). WAllahu 'alam.
"Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?"
Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’
Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, ‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!'
‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya.
‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dengan sifat-Nya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah, galau, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini bukti sederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’ tukang cukur berbicara dengan cukup lantang.
Si pelanggan terdiam. Sambil membatin, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai ia tak jua menemukan jawaban tepat. Maka pembicaraan pun terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan.
Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat.
Namun dalam langkahnya, ia masih penasaran untuk tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani. Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar…. saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya. Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan, baju compang-camping tak keruan.
Demi melihat hal demikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun kembali mendatangi si tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR bukan TUHAN !’
Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut Anda saya pangkas!’
‘Begini pak, di jalan tadi saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berpenampilan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan penjelasannya.
Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak… maaf bukannya TUKANG CUKUR yang tidak ada di dunia ini. Masalahnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tadi tidak mau datang ke sini, ke tempat saya… Andai dia mau datang, maka pasti rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak lagi berpenampilan demikian!’
Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara,‘Naaaahhhh….!!! itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan tadi!'
‘Apa maksudmu?’ si tukang cukur tersontak kaget tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya.
‘Anda tadi kan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya banyak masalah, galau, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Andai saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!'
Si tukang cukur pun akhirnya hanya terdiam, sambil menatap punggung si pelanggan yang melenggang meninggalkan barber shop-nya.
***
Jadi… kita hanya tinggal memohon saja apa yang kita inginkan kepada Allah Swt, pasti Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!”
Katakanlah : “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”(QS. Ali Imran : 26-27)
(Bacalah ayat ini sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki yang halal dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu dan keluarga, insya Allah). WAllahu 'alam.
“Guru, apa yg harus kulakukan supaya aku bisa menemukan cinta sejatiku”,
tanya seorang pemuda. “Pulanglah lewat jalan dimana kamu datang dan
punggutlah satu batu yg menurutmu paling indah. Besok bawalah padaku
batu itu”, jawab sang guru. Walaupun bingung dengan jawaban sang guru
pemuda ini tetap melaksanakan titah sang guru.
Pemuda ini percaya bahwa sang guru akan memberikan nasehat yang bijak. Maka tanpa bertanya apapun pemuda ini melaksanakannya. Setiap batu yang bisa ditemukannya di jalan diambilnya. Lalu dia menilai apakah batu itu indah atau tidak dengan membandingkan dengan batu lainnya.
Keesokan paginya pemuda ini datang dengan bercucuran keringat sambil mengendong sekarung sesuatu di pundaknya. Setelah dibuka dan dikeluarkan isinya, ternyata isinya adalah batu. Dan batu-batu itu memang terlihat indah dibawah terik matahari pagi itu.
“Guru, guru memintaku membawa satu batu yang menurutku paling indah, tapi aku juga melihat banyak batu-batu lain yang indah, jadi aku berpikir alangkah baiknya jika aku bisa memilih lebih dari satu batu. Sekarang aku telah melaksanakan perintah guru, jadi apa hubungannya dengan pertanyaanku kemarin dengan batu-batu ini?”, tanya pemuda ini masih bingung.
Sang guru hanya tersenyum, lalu dilihatnya batu-batu itu. Katanya pada pemuda ini, “Sekarang pulanglah, bawa batu-batu ini bersamamu dan letakkan kembali dimana kamu menemukan batu-batu ini. Besok pagi datanglah padaku”.
Pemuda ini makin bingung dengan permintaan sang guru. Dia sudah bersusah payah menemukan batu indah yang diminta sang guru, lebih dari satu lagi sekarang malah disuruh untuk mengembalikan kembali kejalanan? pada tempatnya lagi dimana ia temukan?.
Walaupun dengan perasaan kecewa dan berat, pemuda ini tetap melaksanakan perintah sang guru. Diambilnya semua batu-batu itu dan dimasukan kembali dalam karung yang dibawanya. Lalu pemuda ini pun pulang dengan beban di pundaknya. Sekali lagi.
Keesokan paginya pemuda itu datang dengan tangan kosong. Wajahnya terlihat agak cemberut. Mungkin pemuda ini kecapekan karena seharian mengendong karung berat berisi batu-batu kemarin. Ketika pemuda ini bertemu gurunya tanpa basa-basi ia langsung bertanya, “Sekarang apa yg harus kulakukan? Mohon guru memberikan jawaban pada murid dan murid mohon jawaban itu harus memuaskan”, tanya si pemuda dengan nada yang sedikit tinggi.
Sang guru tersenyum melihat muridnya yang tidak sabaran, atau lebih tepat sudah kehilangan kesabarannya. Katanya pada pemuda ini, “Punggut kembali satu batu yang kamu buang itu”.
Kali ini sang pemuda murka. Mukanya memerah padam. Tetapi sebelum kemarahan itu dimuntahkannya, sang guru lalu berkata. “Muridku, beberapa hari yang lalu kamu bertanya padaku bagaimana menemukan cinta sejatimu bukan?”, tanya sang guru.
”Iya guru, dan ternyata guru mempermainkanku. Jika guru tidak tahu mengapa murid yang harus jadi korban”, jawab sang murid masih marah.
”Hohoho…, tahukah pelajaran apa yang kuberikan padamu selama tiga hari ini?, tanya sang guru tersenyum penuh arti.
”Bagaimana murid bisa tahu? yang guru minta hanya memunggut batu dan meletakannya kembali. Apa yang bisa kupelajari dari memunggut batu?”, tanya murid kebingungan dengan kemarahan semakin memuncak.
Sang guru menghela napas panjang. Dilihat mata muridnya dalam-dalam. Katanya, “Muridku, seandainya batu itu adalah seorang manusia, seorang wanita, sebuah batu yang kamu sebut cinta setia, kamu sebenarnya telah menemukannya, tapi karena MATAMU YANG SILAU akan hal-hal yang indah, kamu MENUTUP MATAMU yang KEDUA sehingga ada satu yang benar-benar batu setiamu kamu tutupi dengan batu-batu lainnya dan itulah kesalahan PERTAMAMU”.
“Kesalahan KEDUAmu adalah, kamu terlalu MEMPERCAYAI APA YANG DIDENGAR TELINGAMU. Saat aku memintamu mengembalikan semua batu- batu itu, kamu malah melakukannya dengan sempurna. Tapi saat aku kembali memintamu mencari kembali satu batu lagi kamu malah menjadi marah-marah”.
Sembari menghela nafas sang guru melanjutkan “Itulah mengapa sampai hari ini kamu TIDAK MENEMUKAN CINTA SEJATIMU, kamu dibutakan oleh MATAMU dan kamu DITULIKAN oleh telingamu. Kamu terlalu PERCAYA pada mereka yang kamu anggap “BIJAK”, lalu kamu mendengarkan perkataan mereka. Saat kamu telah melakukan semua nasehat yang kamu anggap “Bijak” tadi dan tidak berhasil, kamu menyalahkan mereka. Padahal, kamu sendirilah yang memilih mendengar daripada mereka”. “Ingatlah, cinta sejatimu itu bagaikan batu indah yang kuminta padamu untuk memunggutnya. Jika kamu telah menemukannya, genggamlah erat-erat. Jangan lagi MEMBANDINGKAN dengan batu-batu indah lain di jalan. Jangan lagi MENCARI di sepanjang perjalanan pulang. Karena semakin kamu mencari, semakin kamu berjalan terlalu jauh dari batu yang telah kamu pilih”.
“Tidak ada yang salah jika kamu ingin mendapatkan batu yang lebih indah, tapi yang indah saja tidak cukup. Dia harus enak digenggam. Dia harus memberi kita kenangan. Percuma kamu menemukan batu yang paling indah tapi ketika digenggam semakin lama semakin membuat tanganmu terluka sehingga mau tidak mau kamu harus membuangnya”.
“Nah muridku. Guru ingin bertanya satu kali lagi padamu. Maukah kamu membawakan satu batu yang paling indah menurutmu kepadaku?”, tanya sang guru dengan senyumannya yang bijaksana.
Sang pemuda tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Murkanya sirna. Dengan senyuman tetap merias di wajahnya pemuda ini berkata pada gurunya.“Tentu saja guru, dan kali aku pastikan HANYA SATU BATU dan tentunya yang PALING INDAH BAGIKU“.
Pemuda ini percaya bahwa sang guru akan memberikan nasehat yang bijak. Maka tanpa bertanya apapun pemuda ini melaksanakannya. Setiap batu yang bisa ditemukannya di jalan diambilnya. Lalu dia menilai apakah batu itu indah atau tidak dengan membandingkan dengan batu lainnya.
Keesokan paginya pemuda ini datang dengan bercucuran keringat sambil mengendong sekarung sesuatu di pundaknya. Setelah dibuka dan dikeluarkan isinya, ternyata isinya adalah batu. Dan batu-batu itu memang terlihat indah dibawah terik matahari pagi itu.
“Guru, guru memintaku membawa satu batu yang menurutku paling indah, tapi aku juga melihat banyak batu-batu lain yang indah, jadi aku berpikir alangkah baiknya jika aku bisa memilih lebih dari satu batu. Sekarang aku telah melaksanakan perintah guru, jadi apa hubungannya dengan pertanyaanku kemarin dengan batu-batu ini?”, tanya pemuda ini masih bingung.
Sang guru hanya tersenyum, lalu dilihatnya batu-batu itu. Katanya pada pemuda ini, “Sekarang pulanglah, bawa batu-batu ini bersamamu dan letakkan kembali dimana kamu menemukan batu-batu ini. Besok pagi datanglah padaku”.
Pemuda ini makin bingung dengan permintaan sang guru. Dia sudah bersusah payah menemukan batu indah yang diminta sang guru, lebih dari satu lagi sekarang malah disuruh untuk mengembalikan kembali kejalanan? pada tempatnya lagi dimana ia temukan?.
Walaupun dengan perasaan kecewa dan berat, pemuda ini tetap melaksanakan perintah sang guru. Diambilnya semua batu-batu itu dan dimasukan kembali dalam karung yang dibawanya. Lalu pemuda ini pun pulang dengan beban di pundaknya. Sekali lagi.
Keesokan paginya pemuda itu datang dengan tangan kosong. Wajahnya terlihat agak cemberut. Mungkin pemuda ini kecapekan karena seharian mengendong karung berat berisi batu-batu kemarin. Ketika pemuda ini bertemu gurunya tanpa basa-basi ia langsung bertanya, “Sekarang apa yg harus kulakukan? Mohon guru memberikan jawaban pada murid dan murid mohon jawaban itu harus memuaskan”, tanya si pemuda dengan nada yang sedikit tinggi.
Sang guru tersenyum melihat muridnya yang tidak sabaran, atau lebih tepat sudah kehilangan kesabarannya. Katanya pada pemuda ini, “Punggut kembali satu batu yang kamu buang itu”.
Kali ini sang pemuda murka. Mukanya memerah padam. Tetapi sebelum kemarahan itu dimuntahkannya, sang guru lalu berkata. “Muridku, beberapa hari yang lalu kamu bertanya padaku bagaimana menemukan cinta sejatimu bukan?”, tanya sang guru.
”Iya guru, dan ternyata guru mempermainkanku. Jika guru tidak tahu mengapa murid yang harus jadi korban”, jawab sang murid masih marah.
”Hohoho…, tahukah pelajaran apa yang kuberikan padamu selama tiga hari ini?, tanya sang guru tersenyum penuh arti.
”Bagaimana murid bisa tahu? yang guru minta hanya memunggut batu dan meletakannya kembali. Apa yang bisa kupelajari dari memunggut batu?”, tanya murid kebingungan dengan kemarahan semakin memuncak.
Sang guru menghela napas panjang. Dilihat mata muridnya dalam-dalam. Katanya, “Muridku, seandainya batu itu adalah seorang manusia, seorang wanita, sebuah batu yang kamu sebut cinta setia, kamu sebenarnya telah menemukannya, tapi karena MATAMU YANG SILAU akan hal-hal yang indah, kamu MENUTUP MATAMU yang KEDUA sehingga ada satu yang benar-benar batu setiamu kamu tutupi dengan batu-batu lainnya dan itulah kesalahan PERTAMAMU”.
“Kesalahan KEDUAmu adalah, kamu terlalu MEMPERCAYAI APA YANG DIDENGAR TELINGAMU. Saat aku memintamu mengembalikan semua batu- batu itu, kamu malah melakukannya dengan sempurna. Tapi saat aku kembali memintamu mencari kembali satu batu lagi kamu malah menjadi marah-marah”.
Sembari menghela nafas sang guru melanjutkan “Itulah mengapa sampai hari ini kamu TIDAK MENEMUKAN CINTA SEJATIMU, kamu dibutakan oleh MATAMU dan kamu DITULIKAN oleh telingamu. Kamu terlalu PERCAYA pada mereka yang kamu anggap “BIJAK”, lalu kamu mendengarkan perkataan mereka. Saat kamu telah melakukan semua nasehat yang kamu anggap “Bijak” tadi dan tidak berhasil, kamu menyalahkan mereka. Padahal, kamu sendirilah yang memilih mendengar daripada mereka”. “Ingatlah, cinta sejatimu itu bagaikan batu indah yang kuminta padamu untuk memunggutnya. Jika kamu telah menemukannya, genggamlah erat-erat. Jangan lagi MEMBANDINGKAN dengan batu-batu indah lain di jalan. Jangan lagi MENCARI di sepanjang perjalanan pulang. Karena semakin kamu mencari, semakin kamu berjalan terlalu jauh dari batu yang telah kamu pilih”.
“Tidak ada yang salah jika kamu ingin mendapatkan batu yang lebih indah, tapi yang indah saja tidak cukup. Dia harus enak digenggam. Dia harus memberi kita kenangan. Percuma kamu menemukan batu yang paling indah tapi ketika digenggam semakin lama semakin membuat tanganmu terluka sehingga mau tidak mau kamu harus membuangnya”.
“Nah muridku. Guru ingin bertanya satu kali lagi padamu. Maukah kamu membawakan satu batu yang paling indah menurutmu kepadaku?”, tanya sang guru dengan senyumannya yang bijaksana.
Sang pemuda tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Murkanya sirna. Dengan senyuman tetap merias di wajahnya pemuda ini berkata pada gurunya.“Tentu saja guru, dan kali aku pastikan HANYA SATU BATU dan tentunya yang PALING INDAH BAGIKU“.
Seorang anak memberitahu kepada ibunya bahwa segala sesuatu tidak
berjalan lancar seperti yang ia harapkan. Ia dapat nilai jelek pada saat
ujian, hubungan yang kandas dengan calon pasangannya, dan beragam
masalah yang dikeluhkannya.
Saat itu ibunya sedang membuat kue dan menawarkan apakah anaknya ingin mencicipi? Dengan senang hati anaknya berkata, "Tentu saja ibu, aku sangat menyukai kue buatan mu."
Kemudian ibunya menawarkan lagi, "Coba lah cicipi mentega ini.."
Si anak berkata, "Ini enggak enak kan bu..?"
"Kamu mau coba telur mentah ini tidak?" kata ibunya lagi.
Si anak menjawab, "Hmmm, ibu bercanda deh!"
"Mau coba tepung terigu, sama baking sodanya nda?"
"Ibuuuu, sudah ah... jangan bercanda lagi!" tukas si anak dengan bibir kecut manja.
Si ibu tersenyum dan berkata, "Iya, memang semua ini kelihatannya tidak enak jika dilihat dan dirasakan satu persatu. Tapi, jika di campur menjadi satu melalui proses yang benar, maka benda-benda yang tak enak ini akan menjadi satu komposisi yang nantinya menjadikan kue yang enak sekali..."
Ibunya lalu melanjutkan "Ternyata Allah pun bekerja dengan cara yang sama. seringkali kita bertanya pada-Nya, 'kenapa Dia membiarkan kita melalui masa sulit dan tidak mengenakkan?' Karena Allah Maha Tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu persatu sesuai rancangan-Nya, maka segalanya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya."
"Kita hanya perlu percaya bahwa proses ini di perlukan untuk menyempurnakan kebahagiaan kita... Paham nanda?"
Saat itu ibunya sedang membuat kue dan menawarkan apakah anaknya ingin mencicipi? Dengan senang hati anaknya berkata, "Tentu saja ibu, aku sangat menyukai kue buatan mu."
Kemudian ibunya menawarkan lagi, "Coba lah cicipi mentega ini.."
Si anak berkata, "Ini enggak enak kan bu..?"
"Kamu mau coba telur mentah ini tidak?" kata ibunya lagi.
Si anak menjawab, "Hmmm, ibu bercanda deh!"
"Mau coba tepung terigu, sama baking sodanya nda?"
"Ibuuuu, sudah ah... jangan bercanda lagi!" tukas si anak dengan bibir kecut manja.
Si ibu tersenyum dan berkata, "Iya, memang semua ini kelihatannya tidak enak jika dilihat dan dirasakan satu persatu. Tapi, jika di campur menjadi satu melalui proses yang benar, maka benda-benda yang tak enak ini akan menjadi satu komposisi yang nantinya menjadikan kue yang enak sekali..."
Ibunya lalu melanjutkan "Ternyata Allah pun bekerja dengan cara yang sama. seringkali kita bertanya pada-Nya, 'kenapa Dia membiarkan kita melalui masa sulit dan tidak mengenakkan?' Karena Allah Maha Tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu persatu sesuai rancangan-Nya, maka segalanya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya."
"Kita hanya perlu percaya bahwa proses ini di perlukan untuk menyempurnakan kebahagiaan kita... Paham nanda?"
Dikisahkan seorang saudagar kaya raya menulis sebuah wasiat “Barang
siapa yang dapat menjaganya di dalam kubur setelah beliau mati nanti
akan diwariskan padanya separuh dari harta warisannya.” Lalu ditanya
pada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur?
Lantas anak-anaknya menjawab, “Mana mungkin kami sanggup menemani ayah yang sudah wafat.”
Selang
keesokan harinya dikumpulkan semua saudara kandungnya dan beliau
berkata “Wahai adik-adikku sekalian adakah dari kalian yang sanggup
menjagaku setelah aku mati nanti di dalam kubur selama 40 hari, yang di
dalamnya akan kuhias indah seperti kamar yang mewah. Dan aku juga akan
memberi setengah daripada hartaku pada siapa di antara kalian yang
sanggup bersamaku.”
Adik-adiknya pun menjawab “wahai
kakakku, apakah engkau sudah gila? Mana mungkin manusia sanggup bersama
mayat selama itu di atas bumi, apalagi di dalam tanah.”
Lalu
dengan sedih saudagar kaya raya itu membawa diri ke kamarnya. Beliau
masih keras dengan hajatnya yang ingin minta ditemani di dalam kubur
nanti apabila beliau sudah mati. Maka diumumkanlah berita ini pada
masyarakat luas mengenai wasiat ini.
Akhirnya sampailah
hari di mana sang saudagar tersebut kembali ke rahmatullah. Kuburnya
digali dan dihias indah seperti kamar mewah di dalam tanah.
Pada
waktu yang sama seorang tukang kayu yang sangat miskin, yang dalam
hidupnya hanya mempunyai harta sebuah kapak untuk ia gunakan bekerja
sehari-hari. Ia telah mendengar akan wasiat tersebut kemudian
diberitahukannya kepada isterinya apakah dia perlu mengambil kesempatan
ini untuk menjadi kaya.
Isterinya berkata “Wahai suamiku
apalah arti menjaga mayat tersebut selama 40 hari dibandingkan kerja
kerasmu di dalam hutan bertemu binatang buas ketika menebang kayu. Lagi
pula makanan pun sudah disediakan.
Tukang kayu tersebut
dengan tergesa-gesa menuju ke rumah saudagar untuk menyampaikan niatnya.
Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah saudagar kaya, walaupun
mendapat tentangan dari orang-orang yang tahu akan agama. Si tukang kayu
pun ikut turun ke dalam liang lahat bersama dengan kapaknya.
Setelah
tujuh langkah para hadirin meninggalkan tanah perkuburan maka datanglah
Mungkar dan Nakir di dalam kubur mendekati mayit tersebut.
Si
tukang kayu yang sedikit tahu masalah agama menyadari akan siapa yang
mendekat, dengan perasaan takut yang sangat ia menjauhkan diri dari
mayat sang saudagar kaya. Dalam pikirannya sang saudagar akan ditanyai
oleh dua makhluk Allah tersebut sesuai dengan tugasnya menanyai setiap
perkara tentang si mayit.
Akan tetapi malah sebaliknya,
Mungkar dan Nakir malah mendatangi si tukang kayu, dan menanyai dengan
suaranya yang menggelegar seperti petir. Maka bergetarlah tubuh si
tukang kayu dengan bersengatan rasa takut.
“Apa yang kau perbuat di sini?”
“Aku
menjaga mayat tersebut selama 40 hari untuk nanti mendapatkan setengah
dari harta warisannya,” si tukang kayu menjawab dengan sangat takutnya
hingga tubuhnya bergetar.
“Ápa harta yang kau miliki sekarang?”
“Aku cuma punya sebatang kapak ini saja wahai makhluk ciptaan Allah untukku bekerja mencari rezeki sehari-hari.”
“Darimana kau dapat kapak ini?”
“”Aku membelinya”
“Dari harta apa kau belikan kapak ini?”
“Dari uang yang halal hasil kerjaku sendiri”
Lalu hilanglah Mungkar dan Nakir di hari pertama dalam kubur tersebut.
Di hari kedua dua makhluk Allah ini kembali datang dan lagi menanyai si Tukang kayu.
“Apa yang kau perbuat dengan kapak ini?”
“Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar untuk dijual”
Hari ketiga ditanya lagi masalah kapak tersebut.
“Pohon siapa yang kau tebang dengan kapak ini?”
“Pohon di hutan tak ada yang memiliki.”
“Apakah kau yakin?”
Lalu hilang lagi Mungkar dan Nakir dan datang lagi di hari ke empat.
“Apakah kayu bakar yang kau potong dan kau jual itu sama ukuran dan beratnya?”
“Aku potong sembarang dan kecil-kecil, mana tahu ukuran besar dan beratnya”
Lalu
hilang lagi keduanya, dan datang lagi di esok harinya. Terus menerus
selama 39 hari dan pertanyaannya pun tetap berkenaan dengan sebilah
kapak harta yang ia punya.
Di hari yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan si tukang kayu. Dan keduanya berkata.
“Hari
ini hari terakhir aku akan bertanya masalah kapak ini. Namun belum
sempat Mungkar dan Nakir menanyai, si tukang kapak buru-buru kabur
melarikan diri ke atas membuka pintu kubur. Lalu di atas sudah banyak
orang-orang yang telah menantinya.
Si tukang kayu tersebut
dengan tergesa-gesa keluar dan meninggalkan orang-orang yang telah
menantinya, sambil berkata “Aku tak ingin semua harta wasiat itu dan
ambillah kapakku ini aku tak menginginkannya lagi,” sambil berlari, maka
bingunglah orang banyak melihat muka pucat si tukang kayu.
Sesampai
di rumahnya lalu si isteri berkata “Wahai suamiku, mana setengah harta
warisan yang telah dijanjikan sang saudagar itu?”
Maka
menjawablah si tukang kayu “Aku tak mengambilnya wahai isteriku. Kamu
tahu bukan harta yang kumiliki seumur hidupku hanya sebilah kapak.
Tahukah dalam kubur? Selama 40 hari yang ditanyai oleh Mungkar dan Nakir
hanya perkara kapak itu. Bagaimana seandainya harta kita begitu banyak?
Bagaimana caraku menjawabnya satu persatu….”
*** Nabi
Sulaiman a.s. adalah Nabi yang paling kaya di antara seluruh Nabi dan
Rasul. Dikatakan beliau adalah Nabi yang paling akhir masuk surga karena
lamanya waktu yang digunakan untuk menghisab beliau, padahal seluruh
harta beliau adalah pasti dari yang halal dan digunakan untuk yang
halal. Maka cobalah kita hitung berapa banyak harta benda yang kita
punya di rumah, dan apa yang kita gunakan pada harta tersebut? Masya
Allah… membayangkannya pun sudah sangat takutnya, semoga cerita ini
menjadi i’tibar bagi kita semua. Amin Allahumma amin.
Seorang pria yang buta sedang berjalan di tepi danau, ia ditemani seorang wanita yaitu kekasihnya. Sambil dituntun kemudian sang pria meretas sebuah tanya pada sang wanita "Apakah kita sudah sampai?"
"Sudah sampai sayangku" kekasihnya menjawab dengan penuh pengertian.
Tak lama kemudian pria tersebut bertanya kembali "Apakah banyak ikan yg terlihat olehmu?" wanita tersebut pun menjawab namun sedikit mulai gelisah "Ya... lumayan banyak siih."
Dengan perasaan gembira kemudian pria tersebut kembali bertanya "Sayang, apakah ada orang yang terlihat memancing di danau ini? Aku ingin sekali berbincang dengan pemancing tersebut."
Dengan nada kesal kekasihnya menjawab "Ya ada kok, apakah yang aku lihat semuanya harus dilaporkan kepada dirimu?"
Mendengar jawaban sang kekasih air mata sang pria pun menetes perlahan "Apakah kau merasa aku tidak bersedih dengan keadaanku? Kau kembali menunjukkan kelemahanku. Tahukah, aku pun kecewa akan keadaanku, bukankah dulu sebelum aku berpasangan denganmu, aku telah menerima dengan tulus kebutaanmu. Dan akhirnya aku pun ikhlas memberikan mataku untukmu." Kata pria seraya tersenyum "Agar kau dapat melihat keindahan yang selama ini aku lihat. Agar kau bahagia dengan keindahan yang ada di dunia ini, yang selama ini tak pernah terlihat olehmu."
Sang Kekasih pun terdiam dan segera memeluk pria tersebut sambil menangis haru.
***
Pernahkah anda memikirkan perasaan pasangan Anda?
Padahal jika dirasa, apa yang telah dia berikan sudah melebihi batas pemikiran kita.
Waktu dia menerimamu, berarti dia telah menerimamu apa adanya, baik itu kekuranganmu maupun kelebihanmu.
Lalu, apakah sekarang Anda Marah dengan dia?
Apakah Anda pantas bersikap cuek dengan dirinya?
Apakah Anda pernah belajar untuk memikirkan apa yang dia pikirkan? TIDAK PERNAH bukan? :)
Sebenarnya apa yang ada dipikirkan pasanganmu?
Yang ada dipikiran pasanganmu adalah "Sebuah Rasa Takut" takut tak melihat senyum, ketawa dan bahagia Anda, dari cinta yang telah Anda berikan kepadanya. Semua itu karena dia sayang dan peduli terhadap diri Anda. Sayangilah pasangan Anda sekarang juga. Sebelum rasa sayang itu terlambat, dan menjauh karena kesalahan sikap yang kita tunjukkan.
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam.
Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba.
Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.
Wanita itupun sempat berpikir: "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu.
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi.
Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia kemudian naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget.
Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
"Ko' milikku ada disini??" erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi.
Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih. Dan dialah pencuri kue itu !
***
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Padahal,
Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain .
Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.
Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai. "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?"
"Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.
Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Alloh memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.
Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Alloh, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu.
Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus".
Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Alloh.
Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:
“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 100.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”
Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.
“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”
Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)
***
Cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 100.000
Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.
Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf.
Kita tetap tak ternilai di mata Allah.
Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.
Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.
Rasulullah SAW bersabda ; Innallaha laa yandzuru ila ajsadikum wa laa ila suwarikum wa lakinyandzuru ila qulubikum wa a’malikum “sesungguhnya Allah itu tidakmelihat pada fisik-fisik dan bentuk-bentuk kamu, melainkan Allahmelihat pada hati-hati kamu dan ‘amal-’amal kamu”
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Istirahat bukan berarti berhenti , Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
Sumber : Studio Arsitektur DIMENSI KANAN Palangkaraya
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.
"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang.
Rupanya ada seorang kakek tua.
"Apa yang kau risaukan..?"
Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bisakah kutemukan rasa itu?"
Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku."
Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."
Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini,menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah.
Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu.
Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dan juga dalam pembinaan diri.. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.
Kita percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang.
Rupanya ada seorang kakek tua.
"Apa yang kau risaukan..?"
Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bisakah kutemukan rasa itu?"
Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku."
Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."
Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini,menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah.
Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu.
Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dan juga dalam pembinaan diri.. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.
Kita percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Sumber : Bapinang Cyber Community
Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.
Pertama... "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab.... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya"
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua.
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang". Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini, dan hari-hari yang akan datang.
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi . Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).
Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???" Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah".
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru . Tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".
Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" .
"Semua itu benar...", kata Sang Guru. Namun yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".
Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!!!"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru. Akan tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Sumber : Yopie Item
Duhai . . . Maha Suci Allah,
Penggenggam hati setiap jiwa,
Kau ciptakan kesempurnaan fitrah bagi manusia,
Gelora Cinta menghiasi naluri setiap insan,
Nafsu terkadang berbisik dan menyelimuti cinta,
Kelemahan dan kelengahan akan mengalahkan,
Hidup hanya akan dikuasai kegelisahan,
Bukankah seharusnya cinta ini perlu dipertautkan ?
Selain Pernikahan . . .
adakah yang didamba
Perempuan
sebagai tempat bernama teduhnya perlindungan
Selain Pernikahan . . .
adakah yang didamba
Lelaki
sebagai tempat bernama damai pelabuhan hati
adalah ... Pernikahan dalam Syariah ikutan unik dan suci
adalah ... Pernikahan dalam Syariah menyatukan dua insan berbeda
adalah ... Pernikahan dalam Syariah mengikat hati mereka dalam semaian cinta
adalah ... Pernikahan dalam Syariah merawat dua hati yang rawan dalam tanggung jawab
adalah ... Pernikahan dalam Syariah merawat dua hati yang lemah dengan pengorbanan
adalah ... Pernikahan dalam Syariah membingkai dua hati yang terpisah dengan ketaatan
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannyarasa kasih sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" (Q.S. Ar Ruum : 21)
maka ...
menikah adalah ibadah
meski mengayuh biduknya
memastikan beratnya tanggung jawab
maka ...
menikah adalah separuh agama
meski memutar kemudinya
meniscayakan perjuangan tak henti
Mitsaqan Ghalizan...
itulah Perjanjian yang agung itu ...
"...Aku wasiatkan kalian selalu berbuat baik"
begitu kata-kata terakhir Rasulullah SAW ketika mengingatkan akan kewajiban dibalik amanah pernikahan dalam khutbah beliau pada Haji Wada'

Maka Menikahlah !
Wahai para pemuda, siapa saja
di antara kalian yang btelah mampu
memikul beban hendaklah ia segera
menikah karena hal itu dapat
menundukkan pandangan dan menjaga
kehormatan. Sebaliknya siapa saja
yang belum mampu hendaklah ia
berpuasa karena hal itu dapat menjadi
perisai baginya"
(HR Ibnu Mas'ud)
"Sesungguhnya Kami telah
mengutus beberapa Rasul sebelum
kamu (Muhammad) Kamipun
telah memberikan kepada mereka
istri-istri dan keturunan"
(QS Ar Ra'du : 38)
mengutus beberapa Rasul sebelum
kamu (Muhammad) Kamipun
telah memberikan kepada mereka
istri-istri dan keturunan"
(QS Ar Ra'du : 38)
Ada tiga orang yang berhak
mendapat pertolongan Allah :
(1) seorang mujahid (yang sedang
berperang) di jalan Allah;
(2) orang yang menikah karena
ingin menjaga kehormatannya,
(3) makatib (budak) yang bekerja
demi memerdekakan dirinya
Menikahlah !!!
Teladanilah Rasul dalam
memasuki gerbang pernikahan
Pilihlah calon suami/istri karena ketaqwaannya
Masukilah gerbang
pernikahan dengan ketulusan
niat dan ketundukan terhadap AturanNya
Teladanilah Rasul dalam membangun Keluarga
Laa ilaaha illa Allah sebagai pilar utama mencapai bahagia
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka" (TQs. At Tahrim : 6)

Suami sebagai nahkoda
"Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin kaum wanita (istri) oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (TQs. An Nisaa : 34)
Istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga
"...Seorang perempuan (istri) adalah pemimpin (pengurus) rumah suami dan anak, ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya" (HR Bukhari-Muslim)
dengan kasih sayang, kelembutan, dan perhatiannya isteri adalah ibu yang mengemban tugas luhur melahirkan generasi Khairu Ummah
"Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa lalu dari jiwa itu Dia menciptakan istrinya agar ia merasa tenteram kepadanya" (TQs. Al A'raf : 189)
Merajut keindahan persahabatan
Pernikahan adalah kehidupan persahabatan. Suami-Istri adalah sahabat sejati dalam segala hal.
Gapai kesejahteraan dalam naungan syariat
"Allahlah pemberi rizki "Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkiNya" (TQs. Al Mulk : 15)
Bekerja tak tergelincir pada Lumpur dosa
"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian pada para ibu" (TQs. Al Baqarah : 233)
Berjuanglah, warnailah masyarakat dan kehidupan dengan keshalehan
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka" (TQs. At Tahrim : 6)
"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemunkaran (QS At Taubah [9] : 71)
Reguklah kemuliaan Cinta Dalam Tunduk Patuh Pada-NYA, Hanya Pada-NYA

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa" ((TQs. Al Furqaan : 74)
"semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman" (Doa Rasulullah Muhammad SAW pada pernikahan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib)
Teladanilah Rasul dalam
memasuki gerbang pernikahan
Pilihlah calon suami/istri karena ketaqwaannya
Masukilah gerbang
pernikahan dengan ketulusan
niat dan ketundukan terhadap AturanNya
Teladanilah Rasul dalam membangun Keluarga
Laa ilaaha illa Allah sebagai pilar utama mencapai bahagia
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka" (TQs. At Tahrim : 6)

Suami sebagai nahkoda
"Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin kaum wanita (istri) oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (TQs. An Nisaa : 34)
Istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga
"...Seorang perempuan (istri) adalah pemimpin (pengurus) rumah suami dan anak, ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya" (HR Bukhari-Muslim)
dengan kasih sayang, kelembutan, dan perhatiannya isteri adalah ibu yang mengemban tugas luhur melahirkan generasi Khairu Ummah
"Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa lalu dari jiwa itu Dia menciptakan istrinya agar ia merasa tenteram kepadanya" (TQs. Al A'raf : 189)
Merajut keindahan persahabatan
Pernikahan adalah kehidupan persahabatan. Suami-Istri adalah sahabat sejati dalam segala hal.
Gapai kesejahteraan dalam naungan syariat"Allahlah pemberi rizki "Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkiNya" (TQs. Al Mulk : 15)
Bekerja tak tergelincir pada Lumpur dosa
"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian pada para ibu" (TQs. Al Baqarah : 233)
Berjuanglah, warnailah masyarakat dan kehidupan dengan keshalehan
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka" (TQs. At Tahrim : 6)
"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemunkaran (QS At Taubah [9] : 71)
Reguklah kemuliaan Cinta Dalam Tunduk Patuh Pada-NYA, Hanya Pada-NYA

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa" ((TQs. Al Furqaan : 74)
"semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman" (Doa Rasulullah Muhammad SAW pada pernikahan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib)
Suatu ketika ... seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia
Menjelang diturunkan dia bertanya kepada Tuhan,
"Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia., tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah,"
Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu"
"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagi saya untuk bahagia," demikian kata si bayi.
Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia"
Si bayi pun bertanya kembali, "Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?"
Sekali lagi Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo'a"
Si bayi pun masih belum puas, ia pun bertanya lagi, "Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?"
Dengan penuh kesabaran Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun"
Si bayi pun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya, "Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi"
Dan Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan kan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu,"
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang bayi dengan suara lirih bertanya,
"Tuhan.... jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?"
Tuhanpun menjawab, "kamu dapat memanggil malaikatmu dengan sebutan... Ibu"
***

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi .....
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?
...dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan
Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu
Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa mendatang, ketika ibu telah tiada ...................................................................................
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
Tak ada lagi senyuman indah ... tanda bahagia,

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya
Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akan disetiap hembusan nafasnya
Kembalilah segera ..... peluklah ibu yang selalu menyayangimu ..
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu
dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya ...
Ibu ... ma'afkan aku. Sampai kapan pun jasamu tak akan terbalas

Sumber : TRUSTCO MULTIMEDIA_
Menjelang diturunkan dia bertanya kepada Tuhan,
"Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia., tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah,"
Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu"
"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagi saya untuk bahagia," demikian kata si bayi.
Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia"
Si bayi pun bertanya kembali, "Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?"
Sekali lagi Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo'a"
Si bayi pun masih belum puas, ia pun bertanya lagi, "Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?"
Dengan penuh kesabaran Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun"
Si bayi pun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya, "Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi"
Dan Tuhan pun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan kan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu,"
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang bayi dengan suara lirih bertanya,
"Tuhan.... jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?"
Tuhanpun menjawab, "kamu dapat memanggil malaikatmu dengan sebutan... Ibu"
***

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi .....
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?
...dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan
Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu
Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa mendatang, ketika ibu telah tiada ...................................................................................
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
Tak ada lagi senyuman indah ... tanda bahagia,

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya
Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akan disetiap hembusan nafasnya
Kembalilah segera ..... peluklah ibu yang selalu menyayangimu ..
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu
dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya ...
Ibu ... ma'afkan aku. Sampai kapan pun jasamu tak akan terbalas

Sumber : TRUSTCO MULTIMEDIA_
Special Mother's Day
--> SHOLEH

--> PINTAR

--> SEHAT

--> PEMIMPIN
SHOLEH + PINTAR + SEHAT + PEMIMPIN
UNGGUL --> KEPRIBADIAN ISLAM
KONSEP DIRI
definisi -->
URGENSI PEMBENTUKAN KONSEP DIRI

Nilai Diri = Positif dan Negatif
Contoh konsep diri positif :

"Kamu pandai, Kamu sholeh, Kamu rajin, Kamu bertanggung jawab"
Contoh konsep diri negatif :

CARA RASULULLAH MEMBENTUK KONSEP DIRI ANAK

Contoh :

Abdullah bin Umar
Rasul memberikan pujian terhadap dirinya, karena rajin shalat malam
Shahabat (Budak Bangsa Persia)
Rasul membangun rasa percaya diri dengan memasukkannya pada garis keturunan kaum Anshar
Abdullah bin Ja'far ra
Rasul memberi kesempatan untuk memegang amanah rahasia
Usamah bin Zaid
Rasul memberi kesempatan untuk ikut berjjihad sekalipun hanya membantu pengobatan
Dengan meneladaniRasulullah SAW dalam mendidik anak kita mampu menjadikan anak memiliki kepribadian islam, yaitu berpikir dan bersikap dengan standar aqidah islam
- Mencari keridloan Allah SWT
- Menyenangkan orang tuanya
- Disukai semua orang

--> PINTAR
- Senantiasa mau belajar
- Mencoba segala sesuatu
- Tidak cepat menyerah
- Rasa ingin tahu yang besar

--> SEHAT
- Memakan makanan yang halal dan thoyib (bergizi)
- Menjaga kebersihan
- Cukup istirahat
- Banyak gerak

--> PEMIMPIN
- Berani
- Bertanggung jawab
- Amanah
- Peduli kesulitan orang lain
- Suka membantu atau meringankan beban orang lain
- Tidak membiarkan orang lain melakukan kesalahan
SHOLEH + PINTAR + SEHAT + PEMIMPIN
UNGGUL --> KEPRIBADIAN ISLAM
KONSEP DIRI
definisi -->
- Self Concept atau Self Esteem (Harga Diri)
- Pemberian nilai pada diri seseorang yang akan mempengaruhi pemikiran dan perasaannya
URGENSI PEMBENTUKAN KONSEP DIRI

Nilai Diri = Positif dan Negatif
Contoh konsep diri positif :

- --> Pemikiran ; Saya pandai, Saya Shaleh, Saya rajin, Saya Bertanggung jawab
- --> Perasaan ; Percaya diri, Tidak mudah menyerah, Suka tantangan
"Kamu pandai, Kamu sholeh, Kamu rajin, Kamu bertanggung jawab"
Contoh konsep diri negatif :

- --> Pemikiran ; Saya bodoh, Saya nakal, Saya malas, Saya ceroboh
- --> Perasaan ; Tidak mau mencoba, Senang melakukan kesalahan, Mudah menyerah, Mudah meremehkan pekerjaan, Mengandalkan orang lain, Selalu menuntut kemudahan
CARA RASULULLAH MEMBENTUK KONSEP DIRI ANAK

- Memberi pujian
- Menumbuhkan rasa percaya diri
- Memberi kesempatan untuk melaksanakan suatu amanah
Contoh :

Abdullah bin Umar
Rasul memberikan pujian terhadap dirinya, karena rajin shalat malam
Shahabat (Budak Bangsa Persia)
Rasul membangun rasa percaya diri dengan memasukkannya pada garis keturunan kaum Anshar
Abdullah bin Ja'far ra
Rasul memberi kesempatan untuk memegang amanah rahasia
Usamah bin Zaid
Rasul memberi kesempatan untuk ikut berjjihad sekalipun hanya membantu pengobatan
Dengan meneladani
Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan bunga mawar itu seribu."
Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan keibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
(diadaptasi dari : Rose for Mama - C. W. McCall)
Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan keibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
(diadaptasi dari : Rose for Mama - C. W. McCall)
Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu,
Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu,
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya,
Apakah yang akan kau lakukan untuknya?
Akankah kau sembunyikan buku duniamu,
lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadist di rak buku?
Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu,
Dan kau hiasi mejamu dengan Qur;an yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV,
Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukan kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi,
Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya,
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?
Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksilan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kau lakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak ke rumahmu?
Sangatlah menarik untuk tahu
Apa yang akan kau lakukan
Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu
Gambar dari sini !
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Pemuda itu pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah kepada Tuhanmu agar ALLAH memberi kepadaku seberat biji Jarrah cintaku kepada-Nya.....
Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan mampu untuk seberat biji Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Nabi Isa a.s, kalau aku tidak mampu untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah."
Oleh karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai berdoa maka Nabi Isa a.s dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
Sumber : CINTA ALLAH & CINTA ROSUL
















