Do'a Seorang yang Bertaubat  

Posted by Rudiny in


Bakr ibn Abd Allah Al-Mazani meriwayatkan bahwa seorang tukang daging pernah menaruh hasrat terhadap gadis tetangganya. Suatu hari, ketika keluarga si gadis menyuruhnya pergi untuk suatu keperluan ke desa lain, tukangdaging itu mengikutinya dan berusaha merayunya. Tetapi si gadis berkata, “Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu melebihi cintamu kepadaku, tetapi aku takut kepada Allah.” Tukang daging itu berkata, “Engkau takut kepadanya, sedangkan aku tidak?” Saat itu juga ia beranjak pergi seraya bertobat. Dalam perjalanan, dia diserang rasa haus yang nyaris membuatnya mati. Tiba-tiba berdiri di depannya utusan (Rasul) dari salah seorang Nabi Israel yang bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab, Aku haus.” Dia berkata, “Ke sinilah, mari kita berdoa kepada Allah agar Dia menaungi kita dengan awan hingga kita tiba di desa.” Si tukang daging berkata, “Baiklah, tetapi ucapkanlah amin atas doaku.” Maka utusan itu pun berdoa, sedangkan tukang daging itu mengucapkan amin. Kemudia awan turun menaungi keduanya hingga mereka tiba di desa. Tatkala tukang daging bergeser dari tempatnya, awan itu bergerak mengikutinya sehingga utusan itu berkata, “Tadi engkau mengatakan tidak memiliki amal saleh. Oleh karena itu, akulah yang berdoa, sedangkan engkau mengucapan amin. Akan tetapi, awan yang meneduhi kita malah mengikutimu.” Maka si tukang daging pun menceritakan ihwal dirinya. Lalu utusan itu berkata, “Sesungguhnya orang yang bertaubat kepada Allah lebih tinggi kedudukannya di sisi-Nya di bandingkan siapa pun.”

Bertawashul dengan Amal Ibadah  

Posted by Rudiny in


Diriwayatkan bahwa Abd Allah ibn Umar berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang pria pada zaman dahulu melakukan suatu perjalanan. Ketika malam tiba, mereka berlindung di dalam sebuah gua, namun tiba-tba sebongkah batu jatuh dari atas gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kita dari batu ini, kecuali dengan berdoa kepada Allah Swt dengan menyebutkan amal saleh kita pada masa yang lalu.”

Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Allah, engkau tahu bahwa aku punya dua orangtua yang sudah sangat lanjut, dan bahwa aku selalu memerah susu untuk keduanya sebelum untuk keluargaku dan budak-budakku. Suatu hari, ketika mencari makanan ternak, aku terpaksa pergi jauh. Sehingga aku baru kembali setelah keduanya tertidur, aku merasa tidak pantas untuk mendahului meminum susu itu. Demikian pula istri, anak dan budak-budakku. Aku tetap diam dengan gelas di tanganku, sambil menunggu keduanya bangun dari tidur hingga terbit fajar, sedangkan anak-anak mengitari kakiku sambil menangis. Kemudian mereka bangun dan meminum susu itu. Ya Allah, jika aku sungguh-sungguh melakukan itu demi Engkau, selamatkan kami dari batu ini.” Batu itupun bergeser sedikit, namun mereka tetap tidak dapat keluar.

Pria yang kedua berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku punya saudara sepupu perempuan yang sangat kucintai dan aku berusaha untuk merayunya. Tetapi dia menolak. Lalu datanglah musim paceklik ketika dia menjadi sangat kesusahan. Dia pun datang kepadaku dan kepadanya kuberikan uang sebesar 120 dinar dengan syarat dia harus melayaniku. Dia setuju. Tetapi ketika aku nyaris merenggutnya, dia berkata, ‘takutlah kepada Allah dan janganlah kau rusak ‘mahkota’ itu kecuali dengan cara yang halal.’ Aku mengurungkan niatku untuk menyetubuhinya. Lalu aku pun pergi meninggalkannya dengan emas yang kuberikan kepadanya. Meskipun dia adalah orang yang paling aku cintai. Ya Allah, jika aku benar-benar melakukan itu karena Engkau, selamatkanlah kami dari bencana ini.” Kemudian batu itupun bergeser lagi, akan tetapi mereka masih belum bisa keluar.

Setelah itu, pria yang ketiga berkata, “Ya Allah, aku pernah mempekerjakan buruh dan membayar upah mereka, kecuali seorang buruh yang pergi sebelum mengambil haknya. Maka aku perniagakan upahnya itu hingga menjadi bertambah besar jumlahnya. Selang beberapa waktu, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Hai hamba Allah, berikan upahku.’ Aku berkata kepadanya, ‘Upahmu adalah semua yang kau lihat di sini, yaitu sekawanan unta, sapi, domba maupun para hamba sahaya.’ Dia berkata, ‘Hai hamba Allah, apakah engkau mengejekku?’ Aku berkata, ‘Tidak, aku tidak mengejekmu. Ambillah.’ Lalu dia mengumpulkan (hewan-hewan dan budak-budak) dan mengambil semuanya, tanpa meninggalkan sisa sedikit pun. Ya Allah, jika aku benar-benar melakukan itu karena Engkau, selamatkanlah kami dari bencana ini.” Maka batu itu pun bergeser lagi sehingga mereka terbebas dan pergi.” (ar-Riyadhu as-Shalihin).

KETERAMPILAN TERBESAR ADALAH MAMPU MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI  

Posted by Rudiny in



Ketika pertama kali bekerja di tahun 1955, Kazuo Inamori, salah satu konglomerat terkemuka Jepang, benar-benar anak desa. Seblumnya, ia tak pernah tinggal di kota besar dan bicara dengan aksen selatan yang kental. Setiap kali telepon berdering, ia selalu mengharap orang lain yang mengangkatnya. Ia tak ingin menunjukkan dialek daerahnya dan merasakan hal itu sebagai hambatan.

Tapi, daripada mengalami kompleks kurang harga diri, ia memutuskan untuk menerima kelemahannya dan bekerja keras untuk mengatasinya sehingga tidak merasakannya sebagai suatu kegagalan.

“Saya memang anak desa,” saya mengakuinya pada diri sendiri. “Saya kuliah di sekolah tinggi desa. Saya tak tahu banyak tentang dunia dan kurang bisa berfikir sehat. Saya tak mungkin mengharapkan sukses kecuali saya belajar segalanya mulai dari bawah dan bekerja lebih keras dibanding siapa pun.”

Singklatnya, ia belajar untuk tidak menyangkal kelemahannya. Dengan menerimanya sebaga suatu kenyataan, ia tak perlu berpura-pura. Ia merasa bebas mengambil langkah berikutnya untuk perbaikan.

Jangan berpura-pura dapat melakukan sesuatu yang sesungguhnya tak bisa Anda lakukan. Akui apa yang Anda tidak bisadan mulai dari sana.

“Itulah pelajaran yang saya dapatkan ketika bekerja di Shofu Industries, sebuah perusahaan kecil di Kyoto. Saya mengingatkan diri saya berkali-kali sepanjang hidup saya,“ tulisnya dalam bukunya, Passion for success.

3 PERINGATAN IBLIS UNTUK ANAK CUCU ADAM  

Posted by Rudiny in


Diriwayatkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah duduk bersama seseorang ketika iblis mendatanginya seraya mengenakan pakaian berwarna-warni. Ketika iblis semakin dekat kepada Musa, dia menanggalkan pakaiannya dan meletakkannya, sambil berkata, Assalamu’alaika ya Musa,” Musa bertanya, “Siapakah Anda?” Dia menjawab, “Aku Iblis.” Musa berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Apa yang membawamu kesini?” Iblis menjawab, “Aku datang untuk mengucapkan selamat atas ketinggian derajatmu di sisi Allah.” Musa bertanya, “Apa yang tengah kamu kenakan?” Iblis menjawab, “Pakian yang dengannya aku menaklukkan hatio anak-cucu Adam.” Musa bertanya lagi, “Apakah yang dilakukan manusia yang bisa kamu jadikan alat untuk menguasai mereka?” Iblis menjawab, “Jika manusia besar kepala, menghitung-hitung amalnya, dan melupakan dosa-dosanya. Oleh karena itu aku peringatkan tentang tiga hal. Jangan pernah berdua-duaan dengan seorang wanita yang bukan istrimu. Sesungguhnya tidaklah seorang pria berduaan dengan seorang wanita kecuali aku kan menemani keduanya dan membuat mereka saling tertarik satu sama lain. Janganlah pernah berjanji kepada Allah kecuali jika engkau menepatinya. Dan janganlah sekali-kali engkau mengeluarkan sedekah, namun kemudian membatalkannya. Sesungguhnya tidaklah seseorang mengeluarkan sedekah, namun kemudian membatalkannya, kecuali aku akan menjadi sahabatnya (sehingga aku akan menjadi penghalang baginya untuk melaksanakannya).” Kemudian dia pergi, sambil berseru, “Betapa celakanya aku! Musa telah mempelajari sesuatu yang dapat menjadi peringatan bagi anak cucu Adam.”

SULAIMAN IBN YASAR : BERMIMPI BERTEMU NABI YUSUF A.S.  

Posted by Rudiny in



Diriwayatkan bahwa Sulaiman ibn Yasar, seorang pria sangat tampan, pernah dikunjungi oleh seorang perempuan yang mengajaknya tidur bersama. Dia menolak, dan lari dari rumah dan meninggalkan wanita itu di dalamnya. Sulaiman berkata, “Pada malam itu aku bermimpi bertemu dengan Yusuf a.s. Aku berkata,  ‘engkau Yusuf?’ Dia menyahut, ‘Ya aku Yusuf, yang berhasrat dan engkau Sulaiman, yang belum berhasrat.’
Dengan kata-katanya itu dia merujuk kepada firman-Nya Swt. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.”

***

Kisah lain yang lebih menakjubkan diriwayatkan orang tentang dirinya. Pernah dia keluar dari rumah untuk menunaikan ibadah haji dengan didampingi oleh salah seorang temannya. Ketika tiba di Al-Abwa, temannya itu pergi ke pasar untuk membeli sesuatu dan membawa tikar kulit yang biasa mereka gunakan untuk makan. Sulaiman duduk sendirian di tenda. Dia memang pria yang sangat tampan. Maka ketika seorang seorang wanita Badui yang tinggal di bukit melihatnya, si wanita lalu turun dan mendatanginya. Wanita itu berdiri di depannya dan terpesona oleh raut wajahnya (yang memang sangat tampan dan sangat memelihara agama). Wanita itu mengenakan cadar dan sarung tangan. Ketika si wanita menanggalkan cadar, tampaklah seraut wajah yang bersinar bak rembulan. Wanita itu berkata, “Puaskan aku.” Tetapi si pemuda mengira bahwa yang dimaksudkan adalah makanan, maka dia pun mengambil makanan yang masih ada dan menyerahkannya kepada wanita itu. Namun, si wanita malah berkata, “Aku tidak menginginkan itu, sebab yang ku inginkan adalah apa yang diberikan seorang pria kepada istrinya.” Sulaiman berkata, “Sesungguhnya iblis telah menyuruhmu datang kepadaku.” Setelah itu, dia membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya dan mulai menangis. Setelah melihat hal ini, wanita itu kembali mengenakan cadarnya dan pulang kepada keluarganya.
Datanglah sahabat Sulaiman, lalu ketika menyaksikan mata yang membengkak akibat menangis dan kerongkongan yang kelu tak bersuara, dia bertanya kepada Sulaiman hal yang telah membuatnya menangis. Sulaiman berkata, “Tidak apa-apa, aku hanya teringat kepada anak-anakku.” Sahabatnya berkata. “Tidak, demi Allah, pasti ada sesuatu yang terjadi. Bukankah engkau telah bertemu dengan anak-anakmu tiga hari yang lalu atau sekitar itu. “ Si sahabat tetap mendesak sehingga akhirnya diceritakanlah tentang wanita Badui itu. Mendengar hal itu meletakkan tikar kulitnya dan mulai menangis sehingga Sulaiman bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Dia menjawab, “Aku lebih berhak menangis daripada engkau. Aku takut seandainya aku yang menjadi dirimu, aku tidak akan mampu menolaknya.” Kemudian mereka berdua menangis lama sekali.
Ketika Sulaiman tiba di Makkah, dia mengerjakan sa’i dan thawaf. Tatkala dia mendatangi Hajar Aswad, setelah berselimutkan baju, dia tertidur. Dalam mimpinya, dia melihat seorang pria tampan dan tinggi, dengan penampilan yang menarik dan harum. Sulaiman bertanya, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu. Siapakah engkau?” Pria itu berkata, “Aku Yusuf.” Kata Sulaiman, “Benarkah?” Pria itu menjawab, “Memang benar.” Lalu Sulaiman berkata, “Yang terjadi antara dirimu dan istri Potifar sangat mengagumkan.” Namun, Yusuf menyahut, “Yang terjadi antara dirimu dan seorang perempuan di Al-Abwa justru lebih mengagumkan.”
Subhanallah...

SEPASANG SUAMI ISTRI YANG MEMAHAMI KANDUNGAN AL-QUR’AN  

Posted by Rudiny in



Seorang muballigh – sebagaimana kita ketahui – pada bulan haji atau bulan Rabi,ul Awwal banyak mendapat undangan untuk berceramah di Majlis-majlis Ta’lim, mesjid, surau atau lainnya. Terkadang, dalam satu malam ia mendapat undangan untuk berceramah pada beberapa tempat, sehingga ia benar-benar repot untuk membagi waktu, baik waktu-waktu untuk ceramah maupun untuk keluarganya.
Siang hari ia habiskan waktunya untuk mengajar. Malam hari ia harus pergi bertabligh ke mana-mana. Sering kali ia baru pulang ke rumah setelah hari larut malam. Baru beberapa saat ia beristirahat, adzan subuh telah memanggilnya untuk bersujud menghadap Tuhan. Usai shalat shubuh ia menelaahkitab-kitab dalam rangka mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang akan disampaikan dalam ceramahnya nanti. Begitulah kesibukannya tiap hari, sehingga hampir-hampir tidak punya kesempatan untuk bergaul intim dengan istrinya. Namun demikian, istrinya termasuk orang yang sabar dan mau mengerti terhadap kesibukan suaminya, meski seolah-olah haknya diabaikan begitu saja oleh suaminya.
Pada suatu ketika di malam Jum’at, kebetulan suaminya tidak ada acara ke mana-mana dan tetap tinggal di rumah. Merasa dirinya tidak pernah digauli oleh suaminya yang sibuk dengan acara-acara di luar rumah, kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan olehnya. Tetapi untuk mengatakan secara terus terang jelas ia malu. Naluri kewanitaannya lebih kuat dibanding hasratnya yang juga meluap-luap. Maka mulailah istri yang sabar dan bijaksana itu bersiasat.
Katanya, “Malam ini adalah malam Jum’at, kebetulan kakanda ada di rumah. Di malam yang baik ini saya ingin membaca al-Qur’an di hadapan kakanda. Tolong, simaklah bacaan saya, barangkali ada yang salah, baik bacaan ataupun tajwid-nya.
Dengan senang hati suaminya pun lantas menyandarkan di kursi untuk menyimak bacaan istrinya. Sebentar kemudian telah terdengar alunan suara yang membacakan ayat-ayat al-Qur’an dengan sangat merdu dan fasih, sehingga hati suaminya pun tergetar karenanya, lantaran ia memang memahami maknanya. Bacaan tersebut dimulai dari surat al-Baqarah ayat 222, kemudian ayat 223 yang berbunyi :
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
Ketika selesai membaca ayat 223 ini, istrinya sekali lagi membaca ayat tersebut. Maka tertegunlah suaminya dan bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa istriku mengulang bacaan ayat ini, padahal tidak ada yang salah dalam bacaannya?”
Belum habis herannya, istrinya mengulang bacaan ayat ini sekali lagi. Maka tersentaklah hati suaminya, lantaran memahami apa sebenarnya yang dikehendaki oleh istrinya. Maka sambil tersenyum ia pun berkata :
“Aku mengaku salah adinda, maafkanlah kelalaianku selama ini. Aku terlalu sibuk dengan acara-acara di luar rumah, sementara hakmu yang harus aku penuhi terabaikan. Sekali lagi maafkan aku adinda.”
Sambil menunduk malu istrinyapun ikut tersenyum. Senum kemenangan seorang istri yang sabar dan bijaksana. Maka tanpa banyak cakap lagi suaminya langsung bangkit, memeluk dan mencumbui istrinya dengan penuh kemesraan, kasih sayang dan bahkan kerinduan. Malam itu adalah malam yang sangat indah bagi pasangan suami istri yang memahami makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Malam bahagia bagi pasangan suami istri yang berilmu dan mempunyai rasa saling mengerti.